

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:14
Dilihat : 156JAKARTA, HUMAS MKRI - "Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd."
Gema takbir kembali berkumandang di seluruh penjuru lingkungan Mahkamah Konstitusi (MK). Para hakim konstitusi dan sebagian pegawai yang merayakan Iduladha 1447 H, mengikuti Salat Id berjamaah dipimpin Ustadz Deden Misbahudin Muayyad di Aula Gedung I MK pada Rabu (27/5/2026).
Usai salat, Ustadz Deden menyampaikan khutbah berjudul "Qurban Sebagai Manifestasi Integritas Sosial". Ustadz Deden mengingatkan ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Hal ini sebagaimana telah disebutkan secara eksplisit di dalam al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 2 yang artinya “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”.
“Maka pada hari ini, yaitu hari Idul Adha dan tiga hari yang akan datang, kita Insya Allah akan melaksanakan ibadah kurban sebagaimana perintah Allah pada ayat di atas. Hari Raya Idul Adha merupakan momentum mulia untuk membangun ketakwaan sekaligus memperkuat integritas sosial ditengah kehidupan masyarakat,” ujar Ustadz Deden.
Dia mengatakan, ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan simbol pengorbanan, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial serta keadilan. Allah SWT berfirman di dalam surat al Hajj ayat 37 yang artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu".
Ayat ini menegaskan bahwa inti kurban bukanlah formalitas ritual, melainkan kualitas moral dan ketulusan hati. Islam, yang ritual-ritualnya selaras dengan akal sehat telah menetapkan bagi umat Islam, di dalam Al-Quran yang mulia, bahwa kurban yang dipersembahkan tidak akan memberi manfaat kepada Allah sedikit pun, baik daging maupun darah hewan, melainkan dari ketakwaan mereka.
Ustadz Deden menekankan integritas sosial adalah keselarasan antara iman, ucapan, dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang memiliki integritas sosial tidak hanya baik secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat, keadilan, dan rasa aman bagi lingkungannya.
Sebagaimana Imam Ghazali di dalam kitab ihya ‘ulumuddin berkata bahwa inti agama bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga penyucian akhlak dan tanggung jawab sosial. Al Ghazali menegaskan bahwa manusia yang terbaik adalah yang menjaga amanah, menjauhi kedzaliman, menolong sesama, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Menurut Imam Ghazali, kerusakan sosial berawal dari rusaknya hati dan hilangnya nilai amanah. Sehingga integritas sosial berarti konsistensi antara iman dan perilaku sosial. Orang yang shaleh tidak cukup hanya rajin ibadah, tetapi juga harus jujur, adil, dan dapat dipercaya dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks ini, kurban mengajarkan tiga nilai besar yaitu keikhlasan, persatuan dan solidaritas, serta keadilan. Hari ini, masyarakat membutuhkan integritas sosial yang kuat. Banyak krisis terjadi bukan karena kurangnya ilmu atau kekayaan, tetapi karena hilangnya kejujuran, amanah, dan kepedulian.
“Korupsi, ketidakadilan, manipulasi, dan perpecahan adalah tanda lemahnya integritas sosial. Maka Idul Adha seyogyanya harus menjadi momentum memperbaiki diri dan membangun masyarakat yang lebih berintegritas,” kata Ustadz Deden.
Rangkaian acara hari ini dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Ketua MK Suhartoyo menyerahkan hewan kurban secara simbolis kepada panitia didampingi Wakil Ketua MK Saldi Isra bersama tujuh hakim konstitusi lainnya.
Suhartoyo mengatakan tahun ini merupakan tahun kedua MK menyelenggarakan Salat Id serta penyembelihan hewan kurban di MK, Jakarta serta Kompleks Perumahan Pegawai Mahkamah Konstitusi, Bekasi, Jawa Barat. Menurutnya, kurban membawa berkah sekaligus manifestasi ketakwaan diri.
“Karena tadi saya mendengar cerita Pak Ustadz, ketika nanti kita ditanya oleh malaikat itu tidak ada orang terdekat di sekitar kita hanya hewan-hewan ini yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” tutur Suhartoyo.
Dia berharap Iduladha menjadi momentum para pegawai untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Selain itu dia juga berterima kasih atas kontribusi pegawai yang menjadi bagian dari panitia.(*)
Penulis: Mimi Kartika
Editor: Lulu Anjarsari P.

Ketua MK Suhartoyo menyerahkan hewan kurban secara simbolis kepada panitia didampingi Wakil Ketua MK Saldi Isra bersama tujuh hakim konstitusi lainnya. Humas/Ifa

Rabu, 27 Mei 2026 | 09:14 WIB
Dibaca: 156
JAKARTA, HUMAS MKRI - "Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd."
Gema takbir kembali berkumandang di seluruh penjuru lingkungan Mahkamah Konstitusi (MK). Para hakim konstitusi dan sebagian pegawai yang merayakan Iduladha 1447 H, mengikuti Salat Id berjamaah dipimpin Ustadz Deden Misbahudin Muayyad di Aula Gedung I MK pada Rabu (27/5/2026).
Usai salat, Ustadz Deden menyampaikan khutbah berjudul "Qurban Sebagai Manifestasi Integritas Sosial". Ustadz Deden mengingatkan ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Hal ini sebagaimana telah disebutkan secara eksplisit di dalam al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 2 yang artinya “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”.
“Maka pada hari ini, yaitu hari Idul Adha dan tiga hari yang akan datang, kita Insya Allah akan melaksanakan ibadah kurban sebagaimana perintah Allah pada ayat di atas. Hari Raya Idul Adha merupakan momentum mulia untuk membangun ketakwaan sekaligus memperkuat integritas sosial ditengah kehidupan masyarakat,” ujar Ustadz Deden.
Dia mengatakan, ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan simbol pengorbanan, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial serta keadilan. Allah SWT berfirman di dalam surat al Hajj ayat 37 yang artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu".
Ayat ini menegaskan bahwa inti kurban bukanlah formalitas ritual, melainkan kualitas moral dan ketulusan hati. Islam, yang ritual-ritualnya selaras dengan akal sehat telah menetapkan bagi umat Islam, di dalam Al-Quran yang mulia, bahwa kurban yang dipersembahkan tidak akan memberi manfaat kepada Allah sedikit pun, baik daging maupun darah hewan, melainkan dari ketakwaan mereka.
Ustadz Deden menekankan integritas sosial adalah keselarasan antara iman, ucapan, dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang memiliki integritas sosial tidak hanya baik secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat, keadilan, dan rasa aman bagi lingkungannya.
Sebagaimana Imam Ghazali di dalam kitab ihya ‘ulumuddin berkata bahwa inti agama bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga penyucian akhlak dan tanggung jawab sosial. Al Ghazali menegaskan bahwa manusia yang terbaik adalah yang menjaga amanah, menjauhi kedzaliman, menolong sesama, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Menurut Imam Ghazali, kerusakan sosial berawal dari rusaknya hati dan hilangnya nilai amanah. Sehingga integritas sosial berarti konsistensi antara iman dan perilaku sosial. Orang yang shaleh tidak cukup hanya rajin ibadah, tetapi juga harus jujur, adil, dan dapat dipercaya dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks ini, kurban mengajarkan tiga nilai besar yaitu keikhlasan, persatuan dan solidaritas, serta keadilan. Hari ini, masyarakat membutuhkan integritas sosial yang kuat. Banyak krisis terjadi bukan karena kurangnya ilmu atau kekayaan, tetapi karena hilangnya kejujuran, amanah, dan kepedulian.
“Korupsi, ketidakadilan, manipulasi, dan perpecahan adalah tanda lemahnya integritas sosial. Maka Idul Adha seyogyanya harus menjadi momentum memperbaiki diri dan membangun masyarakat yang lebih berintegritas,” kata Ustadz Deden.
Rangkaian acara hari ini dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Ketua MK Suhartoyo menyerahkan hewan kurban secara simbolis kepada panitia didampingi Wakil Ketua MK Saldi Isra bersama tujuh hakim konstitusi lainnya.
Suhartoyo mengatakan tahun ini merupakan tahun kedua MK menyelenggarakan Salat Id serta penyembelihan hewan kurban di MK, Jakarta serta Kompleks Perumahan Pegawai Mahkamah Konstitusi, Bekasi, Jawa Barat. Menurutnya, kurban membawa berkah sekaligus manifestasi ketakwaan diri.
“Karena tadi saya mendengar cerita Pak Ustadz, ketika nanti kita ditanya oleh malaikat itu tidak ada orang terdekat di sekitar kita hanya hewan-hewan ini yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” tutur Suhartoyo.
Dia berharap Iduladha menjadi momentum para pegawai untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Selain itu dia juga berterima kasih atas kontribusi pegawai yang menjadi bagian dari panitia.(*)
Penulis: Mimi Kartika
Editor: Lulu Anjarsari P.