Singgih Tomi Gumilang bersama para kuasa hukum Pemohon, memaparkan dalil-dalil pokok permohonan pengujian materiil Pasal 143 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), pada Kamis (12/12/2024) di Ruang Sidang MK. Foto: Humas/Panji

Kamis, 12 Desember 2024 | 17:52 WIB

Dibaca: 2251

Kepastian Hukum dalam Surat Dakwaan Dipersoalkan

JAKARTA, HUMAS MKRI – Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang uji materiil Pasal  143  ayat  (2)  Undang-Undang  Republik  Indonesia  Nomor  8  Tahun  1981  tentang  Hukum  Acara  Pidana (KUHAP), pada Kamis (12/12/2024) di Ruang Sidang MK. Perkara Nomor 170/PUU-XXII/2024 ini diajukan oleh I  Gusti  Ngurah  Agung Krisna  Adi  Putra yang menganggap  hak  dan/atau  kewenangan  konstitusionalnya  dirugikan  oleh  berlakunya  Pasal  143  ayat  (2)  KUHAP,  sepanjang  frasa “surat  dakwaan  yang  diberi  tanggal  dan  ditandatangani”.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Konstitusi Arsul Sani, Pemohon yang diwakili oleh Singgih  Tomi  Gumilang selaku kuasa hukum. Ia menjelaskan, Pemohon  hari  ini  masih  berstatus  sebagai  terdakwa  yang  mencari  keadilan  pada  Pengadilan  Negeri  Negara,  Jalan  Mayor  Sugianyar  Nomor  1,  Pendem,  Negara,  Jembrana,  Bali,  karena  secara  aktif  menggunakan  narkotika  golongan  I  dalam  bentuk  tanaman  jenis  ganja  bagi  diri  sendiri.

Menurut Pemohon, ketiadaan  tanggal  dan  tandatangan  tersebut  dapat  menghalangi  terdakwa  untuk  memahami  dakwaan  yang  diajukan  terhadapnya. Sehingga  hak  atas  perlindungan  hukum  yang  adil  sebagaimana  dijamin  Pasal  28D  ayat  (1)  UUD 1945  tidak  terlindungi.

Singgih menyebut, ketidakpastian  dalam  norma  Pasal  143  ayat  (2)  KUHAP. Pasal  ini  tidak  secara  eksplisit  menyebutkan  pihak-pihak  yang  harus  menerima  ‘surat  dakwaan  yang  diberi  tanggal  dan  ditandatangani’. Frasa  ‘surat  dakwaan  yang  diberi  tanggal  dan  ditandatangani’  tidak  menjamin  kepastian  hukum.  

“Frasa  tersebut  tidak  secara  eksplisit  mensyaratkan  bahwa  tanggal  dan  tanda  tangani  pada  surat  dakwaan  harus  merujuk  pada  pengesahan  penuntut  umum  saat  menyerahkan  surat  tersebut  kepada  majelis  hakim  ataukah  kepada  terdakwa  atau  penasihat  hukumnya  ataukah  kepada  majelis  hakim  dan  kepada  terdakwa  atau  penasihat  hukumnya?  Hal  ini  telah  menciptakan  multitafsir,  sehingga  melanggar  asas  lex  certa,” ujar Singgih.

Menurut Singgih, frasa ‘surat  dakwaan  yang  diberi  tanggal  dan  ditandatangani’  harus  dimaknai  bahwa  surat  dakwaan  tersebut  diberikan  oleh  Jaksa  Penuntut  Umum  kepada  Majelis  Hakim  serta  kepada  Terdakwa  atau  Penasihat  Hukumnya.

Tafsir  ini  memastikan  bahwa  Pemohon  dapat  memahami  dakwaan  secara  jelas  dan  memiliki  kesempatan  untuk  mempersiapkan  pembelaan  secara  memadai,  sebagaimana  dijamin  oleh  UUD 1945. Ia menerangkan, dengan  adanya  tafsir  bersyarat  pada  Pasal  143  ayat  (2)  KUHAP,  norma  tersebut  tetap  berlaku  tetapi  dengan  penyesuaian  agar  tidak  melanggar  hak  konstitusional  Pemohon.

Nasihat Hakim

Menanggapi permohonan tersebut, Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih menyarankan Pemohon untuk menyempurnakan permohonan dengan memperbaiki huruf pada penulisan. Selain itu, Pemohon harus menyesuaikan dengan PMK 2/2021.

“Harus ada kejelasan kewenangan MK, kemudian kedudukan hukum dan petitum. Ada bagian legal standing, kedudukan hukum ada di belakang nanti dirapihkan. Jadi nanti yang pertama perlu menjelaskan bagian kewenangan MK,” jelas Enny.

Majelis Hakim memberikan waktu 14 hari untuk memperbaiki permohonannya. Adapun batas waktu perbaikan paling lambat adalah Jumat, 27 Desember 2024. (*)

Penulis: Utami Argawati
Editor: Lulu Anjarsari P.